Dharma Adsasmuda : Pegang “Kunci” Mobil Klasik Bernilai Tinggi

0
1154

Dilema sempat mewarnai pendirian Mercedes-Benz Club Indonesia (MBClubINA). Dharma Adsasmuda, orang yang mengalami proses pembentukan induk klub varian Mercy di Tanah Air tersebut, menceritakan munculnya tanda tanya besar dari salah satu perkumpulan yang telah eksis pada tahun 2004. “Untuk apalah ada payung organisasi? Kita, kan, cuma klub otomotif hobi-hobi saja,” ungkapnya, menyontohkan anggapan yang berkembang saat itu.

Kendati demikian, pembentukan MBClubINA tetap terwujud dengan salah satu dukungan yang datang dari Mercedes-Benz Classic Club Indonesia (MCCI), klub tempat Dharma bernaung sejak paguyuban itu terbentuk 27 Agustus 1999. Adapun, yang mendorong Dharma untuk merapat ke MCCI ialah koleksi Mercy Ponton 180 lansiran 1955 yang menjadi mobil keduanya.

Dharma-Adsasmuda-2

“Kayaknya kalau punya Mercy bagus juga,” kenang Dharma saat memutuskan untuk mencari “pendamping” mobil yang lebih dulu dimilikinya, yakni Morris Minor. Setelah itu, Dharma mengaku “virus” menggemari mobil klasik yang menjangkiti dirinya makin akut dari waktu ke waktu. Sehingga ia tak mampu membendung naluri untuk memburu model-model ikonis lainnya, seperti Mercy 170v 1936. Walaupun, tentu Ponton punya tempat spesial di hatinya.

Pada tahun 2014, artikel dari berbagai media massa yang mengangkat profilnya menyebutkan bahwa pria kelahiran Palembang ini sempat mengoleksi hingga seratus unit mobil klasik. Namun, kepada Mercedes Lounge, Dharma mengaku jumlah tersebut telah menciut hingga hanya tersisa sekitar lima puluh mobil.

Dharma-Adsasmuda-4

Koleksi tersebut banyak laku terjual lewat gerainya “House of Ponton” yang berlokasi di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan. Dalam menggeluti bisnis mobil klasik, Dharma memegang kunci penting. “Saya pernah di-training oleh balai lelang Christie, waktu itu mereka datang ke sini (Indonesia). Ada tiga faktor yang membuat suatu barang punya nilai tinggi,” katanya.

Yakni usia, kelangkaan, dan sejarah mobil tersebut. “Jadi saya harus cari mobil tua yang produksi sedikit. Kalau bisa ada history-nya,” jelas Dharma. Dirinya melanjutkan, mobil-mobil Eropa, khususnya Jerman yang dibuat sebelum Perang Dunia ke-2 punya nilai luar biasa. Dikarenakan populasinya yang nyaris punah akibat perang yang berkecamuk selama 1939 – 1945 tersebut. Hal ini otomatis membuat unit yang berada di belahan dunia lainnya, seperti Indonesia menjadi spesimen sangat langka.

Dharma-Adsasmuda-5

Kini, Dharma tampak senang dengan animo anak muda yang menjadikan mobil klasik sebagai hobi. “Yang saya surprise itu ada anak usia 14 atau 15 tahun mulai mengoleksi mobil-mobil (klasik) itu,” jelasnya. Lebih dari itu, Dharma menaruh harapan besar kepada MBClubINA untuk mempertahankan jiwa dari sebuah klub otomotif sebagai wadah mencurahkan hobi.

Walau sudah tidak segetol dulu, Dharma terus menuruti obsesianya pada mobil klasik. “Dulu, awalnya saya hanya ingin menghabiskan akhir pekan main mobil klasik. Sekarang saya ingin punya museum pribadi,” tutupnya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY